
Pagi hari setelah aku bangun, aku melihat jam ternyata jam sembilan pas. Hari itu aku harus kuliah pada jam sembilan. Badanku yang biasanya sehat dan bugar ternyata hari itu kayaknya agak nggak bersahabat. Karena badanku agak sakit, jadi aku memutuskan untuk nggak mandi. Jadi aku hanya cuci muka dan sikat gigi aja. Lalu aku cari helm kesayanganku, ternyata hilang entah kemana. Dengan wajah yang kelihatan agak lebam (karena nggak mandi kali ya..!!) dan dengan kepala tanpa helm kesayanganku, aku langsung berangkat aja.
Perjalananku menuju kampus agak jauh, yaitu aku harus melewati kampus UNMUH dulu lalu SMAN 2 Jember lalu kampus IKIP PGRI dan SLTPN 3 Jember dan setelah itu tibalah aku di kampus Sastra Indonesia tercinta meskipun agak kotor dan kurang teratur. Di daerahku adalah daerah tegal boto yang terdapat banyak kampus dan kebanyakan pengendaranya adalah mahasiswa.
Ditengah perjalanan, tiba-tiba aku dihadang oleh orang-orang berbadan besar, kenapa saya yang mau berniat baik yaitu kuliah, kok tiba-tiba dihadang. Aku menoleh sebentar ke arah orang yang seram itu, dan aku melihat dia berseragam dan saya berpikir lagi mungkin orang ini mau berbuat baik kepada saya tapi setelah saya menatap dengan mata yang lebar, sepertinya orang itu adalah seorang polisi yang katanya sih melayani masyarakat. Kemudian kunci sepedaku diambil saja dengan kasarnya tanpa minta ijin dulu sama pemiliknya (yaitu aku), lalu aku digandeng dan dibawa ke sebuah meja yang disitu juga banyak orang yang ketakutan karena selalu dibentak dan selalu ditanya kesalahannya oleh orang yang berbadan besar itu.
Dan tibalah wakutukku yang ditanya oleh orang yang katanya pelayan masyarakat tapi yang tidak bersahabat itu, “mana STNKmu?”. Aku menjawab dengan rasa takut yang sangat hebat yaitu seperti menghadapi seorang Ken Arok, aku menjawab: “tiiidakkk bawa paakk...!!!”. Tanpa basa-basi dan tanpa ditanya dulu alasannya, langsung saja aku dimasukkan dalam list tersangka, yaitu tidak bawa helm, tidak bawa STNK, tidak bawa SIM. Sehingga sepeda vespaku yang cantik itu dan yang selalu menemaniku setiap hari meskipun agak menyiksa terpaksa saya relakan dibawa oleh seorang pelayan masyarakat. Lalu aku diberi surat sidang yang menunjukkan bahwa saya harus sidang pada satu minggu setelah kejadian itu.
Satu minggu kemudian
Aku mendatangi markas orang-orang besar itu. Aku mendatangi meja pelayanan (resepsionis) yang dijaga oleh bapak Bambang. Kepada orang itu saya mengetahui banyak tentang SATLANTAS. Saya mendatangi pak bambang dan bertanya: “kalau mau mengambil sepeda motor yang terkena tilang gimana pak ya..?”. lalu dia balik nanya: “mana surat tilangnya”. Lalu saya menyerahkan surat tilang tersebut dan tiba-tiba dia kaget, dan dia mengatakan: “kamu telah melanggar tiga pelanggaran yaitu tidak membawa STNK, SIM dan Helm, wah...ini kalau dihitung, gini dek: tidak bawa STNK Rp. 35.000, SIM Rp. 45.000, Helm Rp. 35.000”. Selanjutanya saya berdandan seperti orang yang goblok yang tidak tahu apa-apa, dan saya bertanya “terus gimana pak, kalo sidang apa juga segitu harganya?”. Dia menjawab: “sama aja dek, soalnya kan prosedur harga menurut pelaggarannya begitu”. Aku lekas menanggapi pernyataan bapak Bambang yang saya nggak tahu apa jabatannya itu, soalnya seragamnya tidak sama seperti polisi yang lain, saya bertanya lagi: ‘o...prosedurnya gitu ya, pak. Trus uangnya masuk mana pak, apa masuk kas negara?”. Dia menjawab dengan wajah optimis dan seperti orang yang telah membela negara, “iya...masuk kas negara, jadi nanti kalo kamu membayar ini kamu akan menjadi penyumbang negara”. Saya berpikir sejenak, o...kas negara, tapi kayaknya nggak ada deh, dalam benak saya. O..mungkin kas negari, he..3X!
Kemudian setelah dirasakan cukup, ternyata saya merasa keberatan dengan harga segitu banyaknya. Aya mempunyai inisiatif untuk menurunkan harga masing-masing pelanggaran itu, karena kebanyakan orang yang telah kena tilang katanya bisa ditawar. “bagaimana pak kalau saya nggak punya uang sebanyak itu?”
Lalu dia menanggapi dengan rasa belas kasih (nggak tahu apa benar-benar kasihan kepada saya atau...?) dia menyuruh saya untuk memilih dua pelanggaran saja, jadi yang satu pelanggaran dicoret. Sehingga hanya tinggal 2 pelanggarn dengan harga Rp. 70.000,- dibayar cash.
Kemudian aku pulang dan aku merasa sangat berat hati dengan beban yang telah saya lewati tadi.
Saran Saya
Jika anda ingin keluar kemana saja jangan lupa helm anda dan kelengkapan surat anda.
Daerah kampus (Tegal Boto) adalah tempat yang banyak sekali pelajar, entah itu Dosen, Guru, Mahasiswa, Siswa SMA, SMP. Disitu adalah tempatnya orang yang tergesa-gesa, banyak lupa masalah yang sepele (bawa helm), jadi apabila mau ada operasi atau penertiban kelengkapan masalah kendaraan bermotor, disitu tempat yang tepat untuk menghasilkan banyak kas negara. Sehingga masyarakat akan sadar untuk memberi nafkah kepada negara lewat pelanggaran bersepeda motor. Syukur-sukur kalau setiap hari, mungkin kas negara akan sangat banyak. Dan rakyat akan lebih makmur (makan jamur), soalnya sudah nggak bisa beli Nasi lagi. Bener nggak?
Kemudian saya menghimbau, agar daerah kampus tertib, sebaiknya dibuat pos polisi, sehingga orang-orang yang kurang disiplin masalah berkendaraan motor, mungkin akan melatih ingatan orang yang sering lupa.
Daerah Kampus Kok ADA Operasi Kendaraan. He...3x!
Uuntuk apa ya daerah kampus ada operasian mendadak...?ha...3x!